Nasionaliskah Aku?

Posted: 14 April 2011 in Renungan

Saya cuma anak muda biasa. Masih memakai produk luar negeri. Masih suka menikmati karya orang asing. Masih lebih sering berteriak untuk tim sepakbola negara lain.

Tapi lalu kenapa? Saya tetap bangga. Saya bisa menulis. Saya bangga menulis dalam Bahasa Indonesia. Dulu Saya bangga tidak pernah tidur, bahkan menguap saat upacara setiap Senin di sekolah. Saya bangga sebagai anak muda yang paham sejarah. Saya bangga bisa menuliskan sejarah, yang dulu biasa didongengkan kakek dan nenek saya di dipan kayu rumah tua mereka. Saya bangga bisa membagi apa saja yang saya tahu tentang asal mula terbentuknya Bangsa ini.

Saya mungkin belum bisa melakukan apa-apa untuk Indonesia. Belum bisa menyumbang apa-apa untuk mengharumkan nama negara. Apalagi membuat bangga pahlawan yang mungkin belum tenang di alam baka. Saya bahkan tidak lebih baik dari sekian anak muda yang rasa Nasionalismenya tiba-tiba saja membuncah setiap bulan Agustus mengetuk pintu tahun.

Tapi lalu kenapa? Bukankah itu hal yang sangat lumrah? Sama serupa hari peringatan kelahiranmu. Apakah setiap hari dalam 365 hari kau mengenang bagaimana perjuangan Ibu melahirkanmu? Aku rasa tidak. Kau mengingatnya, tapi tak pula selalu mengenangnya. Apakah menjadi salah, ketika romantisme Nasionalisme tiba-tiba meluap setiap 17 Agustus hadir di depan mata?

Saya hanya bagian dari masyarakat Indonesia. Yang terlahir mencintai tanah air, lalu beranjak dewasa dan patah hati berkali-kali dibuatnya. Saya mungkin masih sering bersikap sarkas dengan kondisi dan keadaan Indonesia saat ini, masih sering memaki melalui tulisan atau sekedar dalam hati. Cuma tahu protes, tanpa bisa berbuat apa-apa. Cuma tahu mengungkap kecewa, tanpa benar-benar berani terjun langsung kedalamnya. Saya bahkan melarikan diri dari sekolah yang saya tahu akan membawa saya masuk ke dalam sistem kacau balau di atas sana.

Tapi lalu kenapa? Apakah itu membuat saya menjadi tidak Indonesia? Menjadikan saya tidak pantas mencintai tanah saya sendiri? Saya masih mengangkat tangan kanan menuju pelipis mata setiap melihat bendera merah putih berkibar di ujung tiangnya. Saya masih selalu, menyisakan waktu semenit, untuk mengheningkan cipta tepat pukul 10 pagi setiap hari kemerdekaan kita.

Saya bahkan tidak selalu tahu perkembangan yang terjadi. Tidak terlalu peduli ketika harga BBM mendadak naik. Atau harga cabai tiba-tiba saja melambung tinggi. Saya tidak lagi hafal nama-nama menteri. Saya tidak tahu siapa nama-nama Jenderal tertinggi. Saya hampir tidak bisa membedakan batik Yogyakarta dan batik Solo. Saya cuma hafal satu tarian khas suku saya sendiri. Saya kadang lupa Reog itu berasal darimana. Saya bahkan sering salah sebut ketika ditanya Toraja itu berada di pulau apa.

Tapi lalu kenapa? Saya cukup tahu bahwa Indonesia adalah negara kepulauan, yang entah berapa jumlahnya. Yang saya perlu tahu dan ingat adalah, bahwa semua orang yang mengaku bertanah air Indonesia dulu berperan memerdekakan Negara ini. Tidak peduli dia berada di Timur, Tengah atau Barat Indonesia. Yang saya tahu semua itu dulu tidak pernah begitu penting. Yang saya tahu, dulu kita semua satu.

Saya memang hanya bermodalkan kata-kata. Cerita yang hanya sedikit orang tahu benar atau tidaknya. Saya mungkin cuma pengobral kalimat-kalimat indah penggugah rasa Nasionalisme parah. Berteriak disana-sini tentang betapa saya mencintai Indonesia Raya, tanpa bukti yang bisa saya paparkan lantang.

Tapi lalu kenapa!? Bahkan Tan Malaka tidak bersenjatakan bambu runcing ketika menghajar penjajah di pertemuan-pertemuan dunia. Toh Soekarno pun mungkin tidak pernah memegang senjata. Hatta memantapkan namanya di daftar pahlawan cuma bermodalkan kacamata dan buku-buku. Kita tahu bahwa kata adalah kunci komunikasi. Dan paduan keduanya, dikenal sebagai senjata paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia.

Pernah dikatakan sebelumnya, oleh orang pintar entah siapa. Bahwa hidup, sejatinya akan selalu indah jika kau bisa mensyukuri apa yang kau punya. Pernah beberapa kali diteriakkan ke telinga-telinga manusia, untuk menilai tapi jangan pernah menghakimi. Tuhan sudah cukup hebat untuk menjalankan tugas-Nya, tak usah kau bantu dengan segala keterbatasanmu.

Berhenti saling memaki. Mari pulang sama-sama hari ini ke rumah Ibu Pertiwi. Kita nikmati kopi dan teh hasil Bumi tanah air ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s