GALUH

Asal Mula Galuh

Konon kabar kata Galuh berasal dari kata Galeuh atau inti. Menurut Yoseph (2005), dari pengertian tersebut, timbul pergeseran kata menjadi hati, sebagai inti dari manusia. Dalam pengertian lain, kata Galeuh disejajarkan dengan Galih, kata halus dari beuli (beli), namun menurut Purbacaraka mengartikan Galuh sebagai permata. Lain halnya menurut Van Deur Mulen. Galuh sama artinya dengan yang dipahami dalam bahasa tagalog, yakni ‘air’. Galuh berasal kata dari Saka lo atau Sagaluh (hal. 96).
Leluhur Raja-raja Galuh
Kisah Kendan dan Galuh diriwayatkan dalam Naskah Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta, Jika saja dikaji lebih jauh dan teliti, Carita Parahyangan menjelaskan sejarah yang sebelumya gelap, seperti kisah Sanjaya, yang prasastinya ditemukan di Canggal Carita Parahyangan memiliki uraian yang hampir sama dengan Naskah-naskah Wangsakerta, sehingga para ahli sejarah menganggap Naskah Wangsakerta berasal dari sumber yang sama, yakni Pararatwan Parahyangan. Namun karena rentan waktu penyusunannya dianggap terlalu jauh dari masanya, yakni pada abad ke 16, maka Carita Parahyangan dianggap data sekunder.
Sejarah ditatar sunda yang disampaikan secara lisan lebih hidup dan beragam. Sayangnya masyarakat tradisional masih banyak yang menganggap tabu untuk menceritakan sejarah karuhunnya dengan alasan “pamali” – “teu wasa”. Mungkin dahulu ditujukan agar tidak menyinggung perasaan yang kebetulan karuhunnya terceritakan negatif, atau semacam takut membuka aib atas cerita yang dianggapnya tidak lumrah. Dalam masa selanjutnya istilah tabu bukan lagi berasal dari teu wasa, melainkan takut dicemoohkan sebagai “mamake payung butut”, masalah inilah yang ikut menghambat tutur tinular terhadap perjalanan dimasa lalu.
Kisah karuhun Galuh di dalam kesejarahannya yang pernah menjadi rahasia umum adalah Mandiminyak dan Tamperan. Cerita Mandiminyak dianggap tidak lazim karena berhubungan dengan Rabbabu, istri Sempakwaja, kakaknya, hingga melahirkan Bratasenawa. Demikian pula cerita Tamperan yang dianggap aib setelah berhubungan dengan Dewi Pangrenyep, istri Permana Dikusumah. Tetapi hukum dan realitas penyusunan sejarah modern memerlukan data formal. Mungkin alasan ini pula yang berakibat urang sunda tidak memiliki data sejarah, sehingga dianggapnya kurang bersejarah.
Carita Parahyangan menjelaskan ranji Kendan dan Galuh. Sang Resiguru berputra Rajaputra, Rajaputra beranak Sang Kandiawan dan Sang Kandiawati. Sang Kandiawan menamakan dirinya Rahyangta Dewaraja. Waktu ia menjadi rajaresi ia menamakan dirinya Rahyang ta di Medang Jati, yaitu Sang Layuwatang. Kemudian Sang Kandiawan berputra lima orang, yaitu Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, sang Katung maralah, Sang Sandanggreba dan Wretikandayun. Namun yang ditunjuk menggantikan Sang Kandiawan adalah Wretikandayun.
Sang Manikmaya pertama kali menjalankan kegiatan pemerintahannya didaerah Kendan, ia sekaligus bertindak menjadi Rajaresi. Sepeninggalnya ia digantikan oleh Sang Suralim, putranya yang memerintah di Kendan. Sang Suralim sebelumnya menjadi senapati di Tarumanagara, maka ia lebih dikenal sebagai Panglima perang yang tangguh. Dari sejarah Suralim tersebut, masalah kegiatan agama nampaknya tidak merupakan faktor yang sangat penting, sehingga merasa tidak perlu untuk memindahkan pusat pemerintahannya.
Sang Suralim memiliki putra dan putri, yakni Kandiawan dan Kandiawati. Sang Kandiawan kemudian di jadikan penguasa di Medang Jati. Didalam Carita Parhyangan ia disebut juga Rahiyangan di Medang Jati, ia pun bergelar Rajaresi Dewaraja. Ketika menerima warisan tahta dari ayahnya ia tidak lantas pindah ke Kendan, melainkan tetap menjalan pemerintahannya di Medang Jati.
Menurut buku penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat (1983 – 1984), alasan Kandiawan menetap di Medang Jati sangat terkait dengan keagamaan. Di Kendan waktu itu sudah mulai banyak para penyembah Syiwa, sedangkan ia penyembah Wisnu.
Sang Kandiawan memiliki 5 orang putra, yakni Mangukuhan, Karungkalah, Katungmaralah, Sandangreba dan Wretikandayun. Suatu hal yang masih sulit dicari alasannya adalah mengapa Sang Kandiawan mewariskan tahtanya kepada Wretikandayun, putra bungsunya. Alasan ini menurut carita Parahyangan disebabkan berhasil menombak kebowulan, mungkin maksud penulis Carita Parahyangan menceritakan adanya sayembara diantara lima bersaudara tersebut. Namun mengingat penulis Carita Parahyangan sangat irit mengisahkan suatu masalah, maka ia ditulis demikian.
Hal yang paling mendekati terhadap masal ini adalah kemungkinan adanya alasan yang terkait dengan masalah keagamaan. Pemegang kekuasaan dalam tradisi kendan biasanya dipegang oleh seorang rajaresi. Dari kelima palaputra Sang Kandiawan yang memenuhi syarat sebagai raja resi hanyalah Wretikandayun.
Tentang Keturunan Kandiawan yang diuraikan dalam Cerita Parahyangan,diterjemaahkan oleh Atja (1968) dengan menggunakan bahasa sunda ‘Kiwari’, sebagai berikut :
  • Enya kieu Carita Parahiyangan teh.
  • Sang Resi Guru boga anak Rajaputra. Rajaputra boga anak Sang Kandiawan jeung Sang Kandiawati, duaan adi lanceuk. Sang Kandiawan teh nyebut dirina Rahiyangta Dewaradja.
  • Basa ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi, ngalandi dirina Rahiangta di Medangjati, oge katelah Sang Lajuwatang, nya mantenna nu nyieun Sanghiang Watangageung.
  • Sanggeusna rarabi, nya lahir anak-anakna limaan, mangrupa titisan Sang Kusika, Sang Garga, Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Puntandjala, nya eta: Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba jeung Sang Wretikandayun.
  • Rahiyangan di Medangjati lawasna ngadeg ratu limawelas taun. Diganti ku Sang Wretikandayun di Galuh, bari migarwa Pwah ngatak Mangalengale.
  • Ari Sang Mangukuhan jadi tukang ngahuma, Sang Karungkalah jadi tukang moro, Sang Katungmaralah jadi tukang nyadap sarta Sang Sandanggreba jadi padagang.
  • Nya ku Sang Wreti Kandayun Sang Mangukuhan dijungjung jadi Rahiangtung Kulikuli, Sang Karungkalah jadi Rahiangtang Surawulan, Sang Katungmaralah jadi Rahiyangtang Pelesawi, Sang Sandanggreba jadi Rahiangtang Rawunglangit.
  • Sabada Sang Wretikendayun ngadeg ratu di Galuh, nya terus ngajalankeun kahirupan sacara rajaresi sarta ngalandi dirina jadi Rahiangta di Menir. Dina waktu bumen-bumen, harita teh nya nyusun Purbatisti.
Pembentukan Galuh
Menurut Van Deur Meulen, Galuh berasal kata dari Saka Loh, hanya saja lidah orang Banyumas menyebutnya Sagaluh. Demikian pula penggunaan kata untuk suatu daerah, yang banyak menggunakan nama Galuh adalah para penduduk Jawa Tengah bagian barat, seperti Galuh Timur (Bumiayu), Galuh (Purbolinggo), Sirah Galuh (Cilacap), Sagaluh dan Sungai Begaluh (Leksono), Samigaluh (Purworejo), dan Sagaluh (Purwodadi). [Ibid]
Didalam Babad Banyumas, dijelaskan pula, sebagai berikut :
  • Babad Banyumas ora bisa dipisah karo sejarah Kerajaan Galuh Purba (dibangun adoh sedurung abad 5 Masehi). Kerajaan kiye dibangun nang sekitar Gunung Slamet ning bar kuwe pusat kerajaane pindah maring Garut – Kawali (abad 6-7 Masehi) mbentuk utawa ngelanjutaken pemerentahan nang Kerajaan Galuh Kawali. Kerajaan Galuh Purba kuwe dibangun pendatang sekang Kutai, Kalimantan ning sedurung agama Hindu melebu nang Kutai.
  • Keturunan-keturunan Kerajaan Galuh Purba kiye nerusna pemerentahan Kerajaan nang Garut – Kawali (Ciamis) sing wis duwe budaya Sunda, terus sebagian campur darah karo keturunan Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah). Campur darah (perkawinan) kuwe juga berlanjut dong masa Kerajaan Galuh Kawali dadi Kerajaan Galuh Pajajaran sebab akeh perkawinan antara kerabat Keraton Galuh Pajajaran karo kerabat Keraton Majapahit (Jawa), lha keturunan campurane kuwe sing mbentuk Banyumas.
  • Babad Banyumas juga ora bisa dipisah karo sejarah Kerajaan Galuh Kawali sing wilayah kekuasaane ngeliputi lewih separo wilayah Jawa Tengah siki (kemungkinan tekan Kedu lan Purwodadi), dadi termasuk juga wilayah Banyumasan.
  • Babad Banyumas juga ora bisa dipisah sekang pribadi Raden Joko Kahiman (putra Raden Banyak Cotro, putu Raden Baribin), sing duwe sifat utawa watek-watek satria.
Galuh dalam versi Banyumasan mungkin tidak mengenal eksistensi Karang Kamulyan – Ciamis, sebagai lokasi Galuh pasca Kendan, sehingga jamannya langsung melompat ke masa Kawali. Jika saja versi Banyumas digunakan sebagai acuan pokok maka sejarah Sunda Terusbawa menjadi hilang dan tidak memiliki hubungan dengan Pajajaran. Dalam hal ini kiranya perlu mempertimbangkan keberadaan Naskah Pararathon Parahyangan dengan Carita Parahyangan, kedua naskah itu lebih fokus membincangkan masalah Galuh (Parahyangan), sehingga runtutan sejarah yang sudah ditemukan dapat dikaji lebih jauh.

Galuh versi Banyumasan tentunya dapat menunjukan keberadaan tungtung Sunda sebagaimana yang ditulis Bujangga Manik, pada abad ke-16, dan lalampahan Banyak Catra di Kerajaan Pasir Luhur.

Galuh dimasa lalu digunakan untuk nama tiga kerajaan yang ada di daerah Jawa Bagian Barat. Pertama Galuh Purba (Galuh) berpusat di Ciamis. Kedua Galuh Utara (Galuh Baru – Galuh Lor – Galuh luar) berpusat di daerah Dieng. Ketiga Galuh yang berpusat di Denuh (Tasikmalaya).

Dalam Carita Parahyangan, adanya penggantian nama Kendan menjadi Galuh bukan sekedar mengganti nama ditempat dilokasi yang sama. Seperti Sunda Kalapa menjadi Jakarta, melainkan memang ada perpindahan lokasi kegiatan pemerintahan secara fisik. Dari wilayah Kendan (Cicalengka) ke Karang kamulyan. Alasan ini tentu terkait dengan efektifitas pelaksanaan pemerintahan dan kegiatan keagamaan.
Sebagaimana diuraikan diatas, Manikmaya memperoleh wilayah Kendan (cikal bakal Galuh) berikut tentara dan penduduknya dari Tarumanagara, bahkan Tarumanagara melindungi Kendan dari gangguan Negara lain. Namun pada tahun 670 M, Wretikandayun menyatakan Galuh melepaskan diri dari Sunda, kerajaan penerus Tarumanagara.
Kondisi Tarumanagara sejak masa Raja Sudawarman Raja ke-9) memang sudah kurang wibawanya dimata raja-raja daerah. Masalah ini terus berlanjut hingga para penggantinya. Setelah Linggawarman (Raja ke-12) meninggal dan tida memiliki putra Mahkota, pemerintahan diserahkan kepada menantunya, yakni Tarusbawa, raja Sundapura. Kerajaan bawahan Tarumanagara.
Tarusbawa bercita-cita mengangkat kembali kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman (Raja ke-3) yang bersemayam di Sundapura. Keinginannya tersebut diwujudkan dengan cara ia memindahkan dan mengubah Tarumanagara menjadi Sunda, namun ia tidak memperhitungkan akibatnya terhadap negara bawahannya, yang merasa tidak lagi memiliki ikatan kesejarahan.
Pada tahun 670 M, berakhirlah kisah Tarumanagara sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Bagian Barat, namun muncul dua kerajaan kembar. Disebelah barat Citarum menjadi kerajaan Sunda, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan Galuh.

Dilihat dari masa periodenya, Yoseph (2005) membagi menjadi tiga periode, yakni Galuh dapat dibagi menjadi tiga jaman. Pertama Galuh jaman pemerintahan Sempakwaja – Purbasora. Kedua Galuh jaman pemerintahan Mandiminyak – Sena. Ketiga Galuh pada masa pemerintahan Rahiyang Kidul yang selalu terancam oleh kedua pemerintahan diatas.

Pendiri Galuh

Wretikandayun dikenal sebagai raja Galuh pertama bahkan dianggap pendiri Galuh pasca Kendan. Wretikandayun diangkat menjadi raja Galuh menggantikan ayahnya, Sang Kandiawan. Pelantikan tersebut dilakukan pada tahun 534 Saka atau 612 M, saat ia baru berumur 21 tahun

Pada masa pengangkatannya Galuh masih berada dibawah kekuasaan Tarumanagara (masa Maharaja Kertawarman, Raja ke-8). Kemudian pada tahun 670 M, Wretikandayun berhasil membawa Galuh menjadi kerajaan yang berdaulat lepas dari kekuasaan Sunda (dhi. Ex Tarumanagara).

Wretikandayun tidak memilih pusat kegiatan pemerintahan di Kendan atau Medang Jati, sebagaimana yang dilakukan para pendahulunya, tetapi memilih suatu daerah baru yang subur, diapit dua hulu sungai, Citanduy dan Ciwulan. Saat ini dikenal dengan sebutan Karang Kamulyan, terletak di Cijeungjing Ciamis. Tempat tersebut kemudian ia namakan Galuh (Permata).

Pada masa Wretikandayun nyaris tidak ada petumpahan darah, baik didalam Galuh maupun dengan Negara lain. Hal ini disebabkan pengalamannya dalam memimpin Galuh yang sangat lama (612 – 702 M), iapun akhli melakukan diplomasi, bahkan ketika memerdekakan Galuh tidak setetes pun darah tertumpah.

Dimasa kepemimpinan Wretikandayun Galuh dapat memerdekakan diri dari Sunda. Ia sendiri mengabdi sejak jaman Kertawarman, raja ke-8 sampai dengan jaman Linggawarman, raja ke-12.

Dalam Carita Parahyangan dijelaskan Wretikandayun berjodoh dengan Pwah Bungatak Mangalele (Manawati) dengan gelar Candraresmi. Dari pernikahannya ia memperoleh tiga orang putra, yaitu Sempakwaja (620M), Jantaka (622M) dan Amara (624 M). Namun Sempakwaja dan Jantaka memiliki cacat tubuh. Oleh karena itu yang dianggap layak meneruskan kekuasaan Wretikandayun adalah Amara, dengan gelar Mandiminyak.

Sebenarnya jika sejarah tersebut digali lebih jauh lagi, ada perbedaan sifat dari putra-putra Wretikandayun. Sempakwaja dan Jantaka lebih tekun mempelajari masalah keagamaan, sedangkan Amara lebih senang berpesta dan berpesiar.

Untuk meredam masalah, Wretikandayun menempatkan Sempakwaja sebagai resiguru di Galunggung, kemudian bergelar Danghiyang Guru. Galunggung dalam kisah lainnya disebutkan sebagai nagara ‘Kabataraan” atau negara yang berlandaskan agama. ia menjadi pengimbang penting dari kerajaan Galuh.

Sempakwaja dari perkawinannya dengan Rababu melahirkan Purbasora dan Demunawan. Sedangkan Jantaka dijadikan resiguru di Denuh, dengan gelar Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul karena letak Denuh ada di Galuh Selatan. Ia memiliki putra yang bernama Bimaraksa, senapati Galuh dikenal dengan nama Ki Balangantrang.

Wretikandayun memiliki umur panjang, ia wafat pada tahun 702 M dalam usia 111 tahun. Ia memeritah Galuh sejak usia 21 tahun menggantika ayahnya Sang Kandiawan.

Bapak Kemerdekaan Galuh

Sebagaimana diuraikan diatas, Manikmaya memperoleh wilayah Kendan (cikal bakal Galuh) berikut tentara dan penduduknya dari Tarumanagara, bahkan Tarumanagara melindungi Kendan dari gangguan Negara lain. Pada tahun 670 M, Wretikandayun menyatakan Galuh melepaskan diri dari Sunda, nama kerajaan pengganti Tarumanagara.

Kondisi Tarumanagara sejak masa Maharaja Sudawarman, raja Tarumanagara ke-9 memang sudah mengalami krisis kewibawaan dimata raja-raja daerah. Dimungkinkan tidak terjaga hubungan baik dan kurangnya pengawasan terhadap negara-negara bawahan yang telah diberikan otonomi oleh raja-raja terdahulu, atau tidak menguasai persoalan Tarumanagara, Karena sejak kecil tinggal dan dibesarkan di Kanci, kawasan Palawa.

Kalaupun Sudawarman mampu menyelesaiakan tugas pemerintahannya, semata-mata karena kesetiaan pasukan Bhayangkara yang berasal dari Indraprahasta. Pasukan ini sangat setiap terhadap raja-raja Tarumanagara, mereka hanya berpikir: bagaimana menyelematkan raja. Sehingga setiap pemberontakan dapat diselesaikan dengan baik. Sayangnya pada masa Sanjaya, kerajaan Indraprahasta di hancur leburkan, karena daja Indraprahasta mendukung Purbasora, karena memang Purbasora adalah menantu raja Indraprahasta.

Kedua, pada jaman Sudawarman telah muncul kerajaan pesaing Tarumanagara yang pamornya sedang menaik. Seperti Galuh, ditenggara Jawa Barat, merupakan daerah bawahan. Selain Galuh terdapat kerajaan Kalingga di Jawa Tengah yang sudah mulai mencapai masa keemasan. Sedangkan di Sumatera terdapat kerajaan besar, yakni Melayu (termasuk Sriwijaya) dan Pali.

Kemerosotan pamor Tarumanagara tidak akan berakibat parah jika para pengganti Sudawarman mampu mengelola hubungan dengan raja-raja bawahan maupun raja-raja diluar Tarumanagara. Demikian pula pada masa pemerintahan Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirtabumi.

Setelah Linggawarman wafat pemerintahan diserahkan kepada menantunya, yakni Tarusbawa, bergelar Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manungmanggalajaya Sunda sembawa. Ia memerintah sejak tahun 591 sampai dengan 645 saka (669 – 723 M), sebelum menjadi penguasa Tarumanagara ia menjadi raja Sundapura, raja daerah dibawah Tarumanagara.

Tarusbawa bercita-cita mengangkat kembali kejayaan Tarumanagara seperti jaman Purnawarman yang bersemayam di Sundapura. Dengan keinginannya tersebut ia memindahkan mengubah nama Tarumanagara menjadi Sunda (Sundapura atau Sundasembawa). Namun kondisinya sangat berbeda dengan Purnawarman, selain Purnawarman menguasai strategi peperangan dan pemerintahan, dikenal sebagai raja Tarumanagara yang full Power.

Penggantian nama kerajaan tersebut tidak dipikirkan dampaknya bagi hubungan dengan raja-raja bawahannya. Karena dengan digantinya nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda mengakibatkan raja-raja daerah merasa tidak lagi memiliki ikatan kesejarahan, padahal pamor Tarumanagara saat itu sudah jauh menurun, apalagi Tarusbawa bukan anak Linggawarman, melainkan seorang menantu dan bekas raja Sundapura, sesama bawahan Tarumanagara.

Keinginan melepaskan diri dari Sundapura dicetuskan oleh Wretikandayun, mengingat Galuh telah merasa cukup kuat untuk melawan Tarumanagara, karena memiliki hubungan sangat baik dengan Kalingga, melalui perkawinan Mandiminyak, putranya dengan Cucu Ratu Sima. Keinginan tersebut ia sampaikan melalui surat.

Isi surat dimaksud intinya memenjelaskan, bahwa : Galuh bersama kerajaan lain yang berada di sebelah Timur Citarum tidak tunduk kepada Sunda dan tidak lagi mengakui raja Sunda sebagai ratu. Tetapi hubungan persahabatan tidak perlu terputus, bahkan diharapkan dapat lebih akrab. Wretikandayun memberikan ultimatum pula, bahwa Sunda jangan menyerang Galuh, sebab angkatan perang Galuh tiga kali lipat dari angakatan perang Sunda, dan memilki senjata yang lengkap.

Berdasarkan perhitungan Tarusbawa pasukan Tarumanagara yang ada saat ini dibandingkan pasukan Galuh masih seimbang, namun ia menganggap sulit memenangkan peperangan. Tarusbawa juga termasuk raja yang visioner dan cinta damai. Ia memilih mengelola setengah kerajaan dengan baik dibandingkan mengelola seluruh kerajaan dalam keadaan lemah.

Memang ultimatum Wretikandayun bukan suatu ancaman kosong, meningat ia sudah memiliki hubungan diplomatik yang cukup kuat dengan Kalingga, ia pun mengawinkan Mandiminyak, putra bungsunya dengan Parwati, putri Kartikeyasinga denga Ratu Sima, penguasa Kalingga. Demikiam pula Kalingga memiliki kepentingan terhadap Galuh guna menghadapi ekspansi Sriwijaya (lihat kerajaan Sunda).

Pada kisah berikutnya, : Tarusbawa menerima tuntutan Wretikandayun. Ia merelakan kerajaan terpecah menjadi dua. Dengan menggunakan Citarum sebagai batas negara. Konon kabar Citarum akan selalu dijadikan batas wilayah antara Sunda dan Galuh, sebagaimana pada jaman Manarah.

Pada tahun 670 M, kisah Tarumanaga berakhir sebagai kerajaan yang menguasai seluruh Jawa Bagian Barat. Kemudian muncul dua kerajaan kembar. Disebelah barat Citarum menjadi kerajaan Sunda, sedangkan disebelah timur Citarum berdiri kerajaan Galuh. Kedua kerajaan tersebut dimasa berikutnya disebut juga Sunda Pajajaran dan Sunda Galuh.

Pewaris Tahta Galuh

Wretikandayun telah mengang kat Amara, putra bungsunya sebagai putra Mahkota, dengan gelar Mandiminyak, kemudian naik tahta menggantikan ayahnya pada tahun 702 M. Mandiminyak bertahta di Galuh pada tahun 702 M sampai dengan 709 M.
Tradisi pengangkatan putra bungsu sebagai putra mahkota di Galuh bukan hal baru, karena Sang Kadiawan pun mengangkat Wretikandayun, putra bungsunya. Pengangkatan Mandiminyak tentunya memiliki alasan, karena Sempakwaja, putra pertama tanggal giginya, sedangkan Jantaka, putra kedua menderita hernia maka putra bungsunya ini dianggkat untuk menggantikannya.
Mandiminyak dikenal tampan dan cakap. Ia paling disayang oleh Wretikandayun. Ditunjang dengan perkembangan Galuh yang makin pesat, Mandiminyak dikenal sering berpesta dan pesiar. Sedangkan kedua kakaknya memiliki keadaan yang sebaliknya, mereka memiliki cacad tubuh, lebih senang mendalami ilmu keagamaan. Latar belakang dari perbedaan ini di kemudian hari merubah perjalanan hidup para keturunan Wretikandayun, terutama yang ada hubungannya dengan perjalanan kesejarahan Galuh.
Penulis carita Parahyangan mulai mencatat sejarah kelam ketiga keturunan Wretikandayun pada peristiwa pesta ‘bulan purnama’ di keraton Galuh. Saat itu Rabbabu, istri Sempakwaja datang di keraton untuk menghadiri pesta, namun tidak disertai Sempakwaja, karena diberitakan sakit, sementara kedua putranya, yakni Purbasora dan Demunawan bertugas mengurus ayahnya.
Rababu didalam cerita Parahyangan dilukiskan berparas elok, putri sang pertapa, sedangkan Mandiminyak dilukiskan berparas tampan. Keadaan ini yang mendorong keduanya saling jatuh cinta dan melakukan Smarakarya, hingga berhari-hari. Hubungan Mandiminyak dengan Rababu membuahkan seorang putra, kelak diberi nama Sena atau Bratasenawa.
Sempakwaja sangat menyayangi Rabbabu namun tidak mencintai anak Rabbabu hasil perbuatannya dengan Mandiminyak. Peristiwa demikian dilukiskan dengan apik di dalam Cerita Parahyangan, dan akan disamopaikan dalam bahasa Sunda Kiwari, sebagaimana yang diterjemaahkan Atja (1968), sebagai berikut :

·        Carek Rahiang Sempakwaja : “Rababu jig indit. Ku sia bikeun eta budak ka Rahiangtang Mandiminyak, hasil jinah sia, Sang Salahlampah.”
·        Rababu tuluy leumpang ka Galuh. “Aing dititah ku Rahiang Sempakwaja mikeun budak ieu, beunang sia ngagadabah aing tea.”
·        Carek Rahiangtang Mandiminyak: “Anak aing maneh teh, Sang Salah ?”. Carek Rahiangtang Mandiminyak deui: “Patih ku sia budak teh teundeun kana jambangan. Geus kitu bawa kategalan! ”

·        Dibawa ku patih ka tegalan, Samungkurna patih, ti eta tegalan kaluar kila-kila nepi ka awang-awang. Kabireungeuh ku Rahiangtang Mandiminyak. “Patih teang deui teundeun sia nu aya budakna tea!”  Ku patih diteang ka tegalan, kasampak hirup keneh. Terus dibawa ka hareupeun Rahiangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sena.
Peristiwa Smarakarya di ‘pesta bulan purnama” tersebut tentu mendapat respon yang negatif dari kerabat keraton, dan membuahkan pergunjingan yang tidak baik bagi kalangan istana. Untuk meredakan masalah ini Wretikandayun menjodohkan Mandiminyak dengan Parwati, putri Kalingga. Konon Mandiminyak dikabarkan pindah ke kalinnga. Lain halnya dengan Purbasora dan Demunawan, putra Rababu dari Sempakwaja, mereka menaruh dendam, kelak antara putra Rabbau dari Mandiminyak dengan Purbasora terjadi perebutan tahta.
Sebelum memerintah Galuh, Mandiminyak tinggal bersama istrinya untuk memerintah Kalingga. Pengalaman memerintah ini sangat kelak sangat membantu tugasnya, terutama dalam menyelesaikan masalah diplomatik dengan Negara lain. Ketika Wretikandayun mangkat maka Ia kembali dan tinggal di Galuh untuk menggantikannya, namun Parwati, istrinya masih tetep memerintah di Bumi Mataram (Kuna), pecahan dari Kalingga.
Mandiminyak kemudian berupaya memperbaiki hubungan Galuh dengan Sunda yang sempat pecah ketika Galuh menyatakan memisahkan diri dari Sunda, bahkan Terusbawa, raja Sunda menyatakan ketidak setujuannya kepada penguasa Sriwijaya berniat menyerang Kalingga. Disamping itu, Mandiminyak menjodohkan Sanjaya, cucunya, putra Sena dengan Teja Kencana, cucu Terusbawa.
Posisi perkawinan ini menempatkan posisi Galuh sebagai kerajaan yang kuat, bahkan lebih kuat lagi ketika Sanjaya diangkat menbjadi raja Sunda menggantikan Terusbawa. Namun karena masalah alasan pengangkatan Mandiminyak dan buntut peristiwa pesta bulan purnama masih meninggalkan bekas dihati para putra Sempakwaja, maka maka Mandiminyak tidak sepenuhnya mendapat simpati dari kerabat Galuh. Kondisi ini pula yang menjadi sekam, kelak menyulut pemberontakan yang dilakukan Purbasora.
Sena atau Bratasenawa
Mandiminyak wafat pada tahun 709 M. Sepeninggalnya tahta Galuh dilanjutkan oleh Sena, putra dari hasil hubungannya dengan Rababu. Sena dikenal memiliki perangai yang berbeda dengan ayahnya. Sena dikenal taat beragama, ramah dan dihormati kaum agamawan. Sekalipun demikian, masih memiliki ganjalan, hal ini disebabkan peristiwa masa lalu masih tetap berbekas dihati kerabat Galuh.
Diriwayatkan pula Sena sangat menghormati Purbasora dan Demunawan sebagai kakak dari satu ibu. Namun sebaliknya Purbasora dan Demunawan sudah terlanjur sangat membenci. Sena bersahabat dengan Terusbawa, raja Sunda. Mungkin juga karena Terusbawa sahabat ayahnya dan kakek mertua Senjaya, anaknya. Bahkan ketika Sanjaya merebut Galuh, Sena berpesan agar Sanjaya tetap menghormati orang-orang tua di Galuh.
Sena mengetahui akan terjadi pemberontakan yang dipimpin Purbasora. Secara diam-diam ia mengirimkan utusan ke Sunda untuk meminta bantuan Terusbawa. Sayang, pasukan Sunda terlambat tiba di Galuh. sehingga Purbasora sudah mendahulu merebut Galuh.
Ketika Sena mengetahui Galuh telah dilumpuhkan Purbasora dan Demuwan, ia meloloskan diri ke Jawa tengah. Sebagai putra Mahkota Kalingga Utara, iapun kembali ke Kalingga Utara yang waktu itu diperintah oleh Parwati, ibunya. Dengan terusirnya Sena dari Galuh maka hubungan baik antara Kalingga dengan Galuh yang telah dirintis oleh Wretikandayun menjadi terpecah bahkan bermusuhan.
Sena memerintah Galuh selama 7 tahun dan berakhir pada tahun 716 M. Dengan terpaksa ia pun meletakan jabatannya sebagai penguasa Galuh dan membiarkannya dikuasai Purbasora.
Masa Sena di Galuh dilukiskan dalam Cerita Parahyangan, sebagai berikut :

·        Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. / Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. / Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. / Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun(***)

Pisuna Galuh

Pisuna Galuh pada dasarnya dipicu oleh dua masalah. Pertama disebabkan Wretikandayun memilih Mandiminyak, putra bungsunya untuk meneruskan tahtanya. Hal ini disebabkan alasan, Sempakwaja dan Jantaka dianggap tidak layak memiliki cacat tubuh. Kedua adanya penolakan keluarga Galuh terhadap Sena, pengganti Mandiminyak, yang kelahirannya merupakan hasil smarakarya Mandiminyak dengan Rabbabu, istri Sempakwaja pada pesta bulan purnama di Keraton Galuh. Hal ini sekaligus menyebabkan dendam anak-anak Rabbabu dari Sempakwaja, yakni Purbasora dan Demunawan.

Perilaku sebagaimana yang dilakukan Mandiminyak dianggap menyimpang. Hal ini sebagaimana yang dikisahkan didalam naskah Carita Parahyangan dan Siksa Kandang Karesyian. Naskah tersebut menetapkan adanya 3 katagori wanita (istri) yang dilarang untuk dinikahi, yakni (1) gadis atau wanita yang telah dilamar dan lamarannya diterima, (2) Wanita yang berasal dari Tanah Jawa, terlarang dikawin oleh pria Sunda dan larangan tersebut dilatar belakangi peristiwa Bubat, dan (3) ibu tiri yang tidak boleh dinikahi oleh pria yang ayahnya pernah menikahi wanita tersebut. (Ekadjati – 2005 : hal.196).

Jika dilihat dari sejarah keluarnya kedua naskah tersebut tentunya mengadopsi nilai-nilai yang berlaku umum di Galuh. Hal ini dapat dipahami, mengingat Sang Manikmaya, leluhur raja-raja Galuh, dianggap sebagai cikal bakal yang mengajarkan tetekon hidup dan etika-etika yang menyangkut moral, sehingga jika masyarakat Galuh mewajibkan para penguasanya mentaati etika yang berlaku maka harus dianggap kewajaran, karena keberadaan Galuh tidak lepas dari masalah tersebut.

Sena sebenarnya sangat berlainan dengan Mandiminyak, ayahnya. Ia terkenal sebagai orang alim dan sangat dihormati para tokoh agama, namun hanya karena alasan diatas ia kurang mendapat sambutan dilingkungan keluarga Galuh, sehingga terjadi pemberontakan Purbasora.

Purbasora dalam melakukan pemberontakan tentunya tidak dapat dipisahkan dari peranan Demunawan dan Bimaraksa, keduanya putra Jantaka. Secara gagah berani Bimaraksa memimpin pasukan bhayangkara yang berasal dari kerajaan Indraprahasta. Bimaraksa ahli memainkan berbagai jenis senjata dan ahli strategi perang. Peranan yang begitu besar dalam penggulingan Sena maka Purbasora mengangkatnya sebagai Senapati sekaligus Mahapatih Galuh.

Keberpihakan Bimaraksa dan Demunawan terhadap Purbasora memberikan legitimatasi pada gerakan pemberontakan Purbasora, bahwa sedang terjadi pemberontakan dari tiga orang keturunan Wretikandayun terhadap keturunan Wretikandayun lainnya yang dianggap tidak syah tetapi menguasai tahta Galuh.

Purbasora pada saat menggulingkan Sena mendapat dukungan dari pasukan Indraprahasta, kerajaan yang terletak di Cirebon Girang. Pasukan ini secara turun temurun menjadi bhayangkara pengawal raja-raja Tarumanagara. Hal ini dimulai  sejak masa Maharaja Wisnuwarman, Raja Tarumanagara ke-4. Mereka sangat mahir menggunakan senjata, telah teruji keberaniannya dan ulet serta setia kepada raja.

Kedekatan Purbasora terhadap Indraprahasta dikarenakan ada pertalian perkawinan. Purbasora menikahi Citra Kirana, putri sulung Padmahariwangsa, raja Indraprahasta. Dari perkawinan ini menglahirkan seorang putra yang bernama Wijayakusuma. Dikelak kemudian hari setelah berhasil merebut Galuh, Purbasora mengangkatnya sebagai putra mahkota Galuh.

Sena sebenarnya sudah mengetahui akan ada pemberontakan ini. Untuk melakukan antisipasi ia pun telah meminta bantuan Terusbawa, raja Sunda agar mengirimkan balabantuan. Sayanya balabantuan tersebut belum tiba ketika pemberontakan Purbasora terjadi, sehingga Sena terpaksa melarikan diri ke Merapi, untuk kemudian tiba di Kalingga Utara.

Penulis Carita Parahyangan mengisahkan peristiwa ini, sebagai berikut :

  • Lawasna jadi ratu tujuh taun, geus kitu Rahiangtang Mandiminyak diganti ku Sang Sena. / Lawasna jadi ratu tujuh taun, diganti lantaran dilindih ku Rahiang Purbasora. / Kajaba ti eta Sang Sena dibuang Gunung Merapi, boga anak Rakean Jambri. / Sanggeusna manehna sawawa indit ka Rahiangtang Kidul, ka Denuh, menta dibunikeun.

Gerakan politis lain yang digunakan Purbasora adalah menjaga hubungannya dengan Terusbawa, raja sunda, mertua dari anak Sena, yaitu Senjaya. Dalam kasus ini Purbasora menganggap tidak perlu berhadapan dengan raja sunda, karena ia hanya ingin menyingkirkan Sena, sehingga perlu membuka jalur diplomasi melalui Duta Sunda yang ada di Galuh.

Pasukan Sunda yang akan membantu Sena saat itu sedang menuju Purasaba Galuh, tidak mengetahui bahwa Sena telah digulingkan. Hal ini telah diketahui Purbasora. Ia memutuskan untuk bersama duta besar Sunda menyambut pasukan Sunda. Sekalipun demikian ia sudah mempersiapkan jika diplomasi ini menemui jalan buntu.

Purbasora menawarkan pasukan Sunda untuk tetap menjadi sahabat dan menjamu di Galuh. Pada akhirnya Duta Besar Sunda berhasil membujuk pasukan Sunda, dengan pertimbangan untuk mencegah pertumpahan darah yang lebih besar, serta alasan keselamatan keluarga Duta Besar itu sendiri, pada saat itu menjadi sandera di keraton Galuh dengan alasan dianggap sebagai tamu kehormatan Galuh.

Purbasora meminta Duta Sunda untuk mengantarkan surat kepada Raja Sunda, isinya mengajak untuk bersahabat dan menganggap masalah Galuh adalah urusan intern keluarga yang harus diselesaikan oleh orang-orang Galuh. Terusbawa menerima ajakan tersebut, karena selain tidak mau memulai perseteruan baru, ia telah mengetahui bahwa Sena selamat. Disisi lain, ia pun sedang sibuk menghadapi bajak laut yang semakin merajalela. Konon kabar para bajak laut tersebut didalangi Sriwijaya.

Purbasora Pejah

Sanjaya, putra Sena dan keluarga Kalingga merasa sakit hati atas peristiwa penggulingan Sena di Galuh. Sanjaya yang sangat temperamental dikabarkan segera mempersiapkan pembalasan dan secara diam-diam menggalang diplomasi dengan kekuatan lainnya. Pada masa terusirnya Sena dari Galuh, usia Sanjaya masih berumur 33 tahun.

Upaya untuk merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora dilakukan pertama-tama dengan cara menghimpun kekuatan dan membuka jalur diplomatik dengan pihak-pihak yang dianggap berpengaruh terhadap Galuh.

Secara diam-diam Sanjaya pergi ke Denuh menemui Resiguru Wanayasa (Jantaka) dan meminta agar Resiguru mau menjadi manggala dan bertindak sebagai pelaksana keadilan. Permintaan ini menjadikan Resiguru berada pada posisi yang sulit, karena putranya, yakni Bimaraksa (Balangantrang) ada di pihak Purbasora, dilain pihak ia mengetahui bahwa Sanjaya adalah pewaris yang syah dari Mandiminyak, sehingga ia memutuskan untuk bersikap netral dan memintakan agar keluarganya yang ada di galuh tidak diganggu. Resiguru menyarankan agar Sanjaya meminta bantuan raja Sunda. Sanjaya kemudian berjanji untuk mentaati saran itu, namun meminta syarat agar Resiguru mau bersikap netral.

Dialog pertemuan ini dikisahkan oleh Penulis Carita Parahyangan, sebagai berikut :

  • Carek Rakian Jambri: “Aing anak Sang Sena. Direbut kakawasaanana, dibuang ku Rahiang Purbasora.”
  • “Lamun kitu aing wajib nulungan. Ngan ulah henteu digugu jangji aing. Muga-muga ulah meunang, lamun sia ngalawan perang ka aing. Jeung deui leuwih hade sia indit ka tebeh Kulon, jugjug Tohaan di Sunda.”Sadatangna ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda.

Sanjaya dari Denuh menuju Pakuan untuk menemui Terusbawa, dan meminta bantuannya. Terusbawa sebagai raja Sunda dihadapkan pada posisi yang serba sulit. Disatu sisi Sanjaya adalah anak Sena dan cucu Mandiminyak, sahabat dalitnya, namun disisi lain ia telah memiliki hubungan baik dengan Purbasora.

Jika dianalisa dari alasan yang menyangkut posisi Terusbawa tersebut sebenarnya kurang lengkap, mengingat ada peristiwa di Sunda yang harus diperhatikan, yakni munculnya gangguan dari para bajak laut yang disponsori Sriwijaya. Mungkin masalah inilah yang paling strategis untuk dijadikan alasan yang tepat. Karena pemberantasan bajak laut pada masa itu membutuhkan sumberdaya dan kekuatan yang tidak sedikit. Disisi lain pada masa itu Galuh telah memiliki pasukan bhayangkara yang tangguh. Jika pasukan Sunda dikirimkan ke Galuh untuk membantu Sanjaya maka kekuatan di Sundapura menjadi sangat terancam. Terusbawa akhirnya hanya menyarankan agar Sanjaya lebih berhati-hati dalam melakukan tindakannya.

Kemungkinan lainnya adalah, pada masa itu Sanjaya belum menikah dengan Tejakencana, cucu dari Terusbawa, sehingga ia belum menjadi Prabu Anom Sunda. Pernikahan tersebut terjadi pasca Sanjaya membantu Terusbawa memberantas bajak laut diperairan Sunda. Hal ini terjadi sebelum Sanjaya pergi ke Galuh.

Memang di dalam RPMSJB juga terdapat beberapa keterangan tentang masalah waktu Sanjaya pada saat memberantas para bajak laut yang ada diperairan Sunda. Disatu sisi buku RPMSJB menyebutkan adanya saran Terusbawa agar Sanjaya mempelajari buku bala sarewu, untuk kemudian dijadikan petunjuk pokok di dalam cara memberantas para bajak laut. Peristiwa pemberantasan bajak laut dianggap cara melatih dan mempersiapkan Sanjaya sebelum menyerang Galuh. Namun disisi lainnya Terusbawa menyarankan Sanjaya untuk mempelajari kitab bala sarewu sebagai buku pelajaran yang mengandung pelajaran strategi perang, untuk kemudian langsung menyerang Galuh, tanpa terlebih dahulu memberantas bajak laut.

Menurut salah satu versi, buku tersebut buah karya Resiguru Manikmaya, leluhur dari Sanjaya, sehingga sangat tepat jika Terusbawa menyarankan Sanjaya untuk mempelajari buku yang dibuat oleh leluhur Sanjaya, untuk kemudian dijadikan sebagai ajaran pokok di dalam cara memberantas bajak laut. Dari keberhasilan inilah maka Sanjaya dijodohkan dengan Teja Kencana, putri Mahkota Sunda atau cucu Terusbawa.

Tentang adanya buku ‘ratuning bala sarewu’ dituliskan di dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :

  • Ti dinya ditilar deui da ngajugjug ka Rabuyut Sawal. Carek Rabuyut sawal: “Sia teh saha?” / “Aing anak Sang Sena. Aing nanyakeun pustaka bogana Rabuyut Sawal. Eusina teh, ‘retuning bala sarewu’, anu ngandung hikmah pikeun jadi ratu sakti, pangwaris Sang Resi Guru.” / Eta pustaka teh terus dibikeun ku Rabuyut sawal. Sanggeus kitu Rakean jambri miang ka Galuh. (Atja, 1968).

Pada masa selanjutnya diketahui, di tengah malam buta, ketika Galuh terlelap tidur, tiba tiba Sanjaya datang menyerang dan membumi hanguskan Galuh. Ditengah kobaran api, konon kabar Sanjaya sendiri yang menghadapi Purbasora, ketika itu Purbasora sudah berumur 80 tahun. Menurut naskah Nusantara III/1 diberitakan ditengah hingar bingar pertempuran terdengar teriakan : “Purbacura Pinejahan dening Sanjaya yudhakala” [Purbasora dibinisakan oleh Sanjaya waktu perang].

Didalam kemelut tersebut Sanjaya menepati janjinya. Ia tidak menghabisi keluarga lainnya, termasuk Bimaraksa, kecuali Purbasora. Selanjutnya Bimaraksa lari ke Geger Sunten, iapun membentuk kekuatan dengan cara mengumpulkan para partisan untuk merebut Galuh kembali. Dalam cerita Pantun ia kisahkan sebagai Aki Balangantrang, kakek dari Ciun Wanara.

Ketika Purbasora wafat, ia telah berumur 80 tahun. Purbasora memimpin Galuh sejak 716 sampai dengan 723 M. Dalam naskah carita parahyangan dikisahkan :

  • Ti inya pulang ka Galuh Rakéyan Jambri. Tuluy diprang deung Rahiyang Purbasora. / Paéh Rahiyang Purbasora. / Lawasniya ratu tujuh tahun. Disilihan ku Rakéyan Jambri, inya Rahiyang Sanjaya. [Atja, 1968].

Maharaja Sanjaya

Sanjaya menjadi penguasa Galuh setelah ia mampu menyingkirkan Purbasora dari kedudukannya sebagai raja Galuh. Namun masih sulit menetapkan tahun kekuasaannya di Galuh. Dalam seri Nusantara dan Kretabhumi disebutkan, Sanjaya berkuasa pada tahun 645 – 654 Saka. Tetapi didalan Kitab Pararatwan Jawadwipa disebutkan dari tahun 645 – 647 menjadi penguasa Sunda sedangkan di Galuh ditulis sejak tahun 647 – 654 menjadi penguasa Sunda dan Galuh.
Didalam thesisnya tentang Prakondisi Terbentuknya Identitas Kebangsaan, Nana Supriatna, mengemukakan : Eksistensi Sanjaya di jawa barat diperoleh dari prasasti Canggal (732 M), menerangkan mengenai seorang raja bernama Sanjaya yang mendirikan tempat pemujaan untuk dewa Siwa di daerah Wukir. Dia adalah anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Sanjaya adalah pendiri wangsa Sanjaya yang berkuasa atas kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah bagian utara. Jika dihubungkan dengan kekuasaan di Sunda dan Galuh, maka ia menguasai sebagai besar Pulau Jaya.
Akan tetapi apabila isi prasasti tersebut dihubungkan dengan isi Carita Parahyangan yang menerangkan tentang berkuasanya Sanna di Galuh, Sanjaya adalah raja Galuh yang menggantikan Sanna setelah dia berhasil mengalahkan Rahyang Purbasora yang merebut tahta raja Sanna.
Dalam Carita Parahyangan juga disebutkan bahwa Raja Sanjaya berhasil memperluas wilayah kekuasaannya dengan cara menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil, yakni Manunggul, Kahuripan, Kadul, Balitar, Malayu, Kemir, Keling, Barus, dan Cina. Kerajaan-kerajaan yang diperkirakan terletak di Jawa Barat bagian timur dan Jawa Tengah bagian barat itu menjadi bagian dari kerajaan Galuh.
Sanjaya menggantikan Tarusbawa, sebagai raja Sunda pada tahun 723 M. Ia menikahi Teja Kencana, Cucu Tarusbawa. Pada tahun yang sama Sanjaya berhasil merebut kembali tahta Galuh dari Purbasora. Hak sebagai penguasa Galuh didapatkan dari garis keturunan Sena – Sanna, ayahnya. Dengan demikian di Jawa Barat, Sanjaya berhasul menyatukan kembali wilayah Tarumanaraga (Sunda – Galuh). Ia pun berkedudukan di Pakuan.

Dalam rintisan penelusuran masa silam sejarah Jawa Barat, Sanjaya dianggap mampu menaklukan Indrawarman, raja Sriwijaya, yang menutut sebagaian Tarumanagara, sebagai sesama keturunan Linggawarman dari Tarumanagara.
Selain menguasai Kerajaan Sunda, Galuh dan Medang, Sanjaya memilki kekuasaan yang telah diakui oleh Prabu Narayana (Iswara) di Kalingga Selatan. Kalingga memiliki wilayah yang meliputi sebagai besar Jawa Timur. Hal ini dilakukan melalui cara menaklukan raja-raja kecil sebelum melakukan ekspansi ke Sumatera. Sedangkan PrabuIswara memiliki wilayah sebelah timur dari Progo Utara.
JIka dilihat dari peta Pulau Jawa, praktis Sanjaya menguasa sebagai besar Pulau Jawa sehingga ia berhak menyandang gelar sebagai penguasa Pulau Jawa.
Konsolidasi Galuh
Pasca perebutan tahta yang akhirnya menewaskan Purbasora, Sanjaya mengirimkan untusan (patih) untuk menghadap Danghiyang Guru Sempakwaja, ayahnya Purbasora di Galunggung. Ketika itu Sempakwaja telah berumur 103 tahun. Sanjaya meminta agar Demunawan, putra Sempakwaja mau dijadikan ‘piparentaheun’ – wakil Sanjaya yang bertugas menjalankan roda pemerintahan di Galuh.
Permintaan Sanjaya tersebut bertujuan agar perselisihan diantara keturunan Sempakwaja dan Mandiminyak dapat terselesaikan dengan baik, karena keduanya masih tunggal keturunan Wretikandayun, pendiri kerajaan Galuh. Alasan lainnya dapat ditemukan didalam naskah Nusantara III/1, hal 158, sebagai berikut :
·        ….. Sanjaya menjadi raja Galuh Pakuan pada tanggal 4 bagian gelap Caitra tahun 645 saka. Sejak waktu itu Sanjaya menjadi raja Sunda dan Galuh. Tetapi kaum kerabatnya tidak senang melihat Sanjaya menguasai raja-raja daerah di Galuh. Terutama Sang Resiguru Sempakwaja dan Sang Demunawan paling tidak senang melihat Sanjaya menjadi penguasa di daerah-daerah sekitar Galuh dan melihat Galih menjadi bawahan (mandalika) Kerajaan Sunda. [RPMSJB, Jilid kedua, hal 66]
Sempakwaja mengkhawatirkan permintaan ini sebagai jebakan agar Demunawan turun ke Galuh untuk kemudian dibunuh. Alasan lainnya terkait dengan keteguhan hatinya, ia tidak rela anaknya diperintah raja Sunda. Dahulu Wretikandayun, ayah Sempakwaja sudah bersusah payah memerdekakan Galuh dari Sunda, dengan dijadikannya Demunawan sebagai piparentaheun di Galuh sama halnya dengan mengulang kembali kekuasaan Sunda di Galuh.
Dari kekhawatiran itu pada akhirnya Sempakwaja menolak secara halus. Sempakwaja mengemukakan, : Jika Sanjaya ingin dianggap pantas memerintah Galuh, maka Sanjaya harus terlebih dahulu mengalahkan (nyandoge) tiga tokoh kepercayaan Sempakwaja, yakni Pandawa, Wulan dan Tumanggul.
Ketiganya masing-masing raja didaerah Kuningan, raja Kajaron dan raja Kalanggara di Balamoha. Kekuasaan yang dipegang Sanjaya dianggap tidak ada apa-apanya jika Sanjaya belum mampu menaklukan raja di Jawa Tengah dan sekitar Galuh. Jika Sanjaya mampu menguasai mereka maka Resiguru Demunawan, putra Sempakwaja, masih ua Sanjaya, pantas mempertuan Sanjaya. Namun jika Sanjaya tidak mampu menundukan mereka maka Sempakwajalah yang akan menentukan penguasa Galuh.
Dialog dan persyaratan tersebut di tulis di dalam Carita Parahyangan, sebagai berikut :
·        Carek Rahiang Sanjaya: “Patih, indit sia, tanyakeun ka Batara Dangiang Guru, saha kituh anu pantes pikeun nyekel pamarentahan di urang ayeuna.” Sadatangna patih ka Galunggung, carek Batara Dangiang Guru: “Na aya pibejaeun naon, patih?” / “Pangampura, kami teh diutus ku Rahiang Sanjaya, menta nu bakal marentah, adi Rahiang purbasora.”
·       
·        Hanteu dibikeun ku Batara dangiang Guru. / Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, indit beunangkeun ku sorangan. / Elehkeun Guruhaji Pagerwesi, elehkeun Wulan, Sang Tumanggal, elehkeun Guruhaji / Teprs jeung elehkeun Guruhaji Balitar. Jig indit Rahiyang Sanjaya; elehkeun Sang / Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan. Maranehna meunang kasaktian, nu ngalantarankeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan henteu kabawah ku dangiang Guru. Lamun kaelehkeun bener maneh sakti.”
Menurut penulis Carita Parahyangan tersebut, Sanjaya tidak mampu mengalahkannya, bahkan sebaliknya Sanjaya dipukul mundur dan dikejar hingga kembali ke Galuh. Rupa-rupanya Sempakwaja sudah dapat mengukur kemampuan Sanjaya, sehingga permintaan itu pun ditolak dengan cara yang disyaratkannya.
Peristiwa tentang kekalahan Sanjaya dikisahkan pula dalam naskah ini, sebagai berikut :
Eleh Rahiang Sanjaya diubeuber, nepi ka walungan  Kuningan. / Rahiang Sanjaya undur. / “Teu meunang hanteu aing kudu ngungsi ka dieu, lantaran diudag-udag, kami kasoran.”  / Ti dinya Rahiang Sanjaya mulang deui ka Galuh, / Sang Wulan, Sang Tumanggal mulang deui ka Arile. / Rahiang Sanjaya tuluy marek ka Batara Dangiang Guru, / Carek Batara Dangiang Guru: “Rahiang Sanjaya, naon pibejaeun sia, mana sia datang ka dieu?” / “Nya eta aya pibejaeun, apan kami dipiwarang, tapi kami eleh. Ti mana kami unggulna, anggur kami diuber-uber ku Sang Wulan, Sang Tumanggal jeung Sang Pandawa di Kuningan.”  / Sanggeus kitu Rahiang Sanjaya tuluy mulang ka Galuh.
Sanjaya pasca kekalahannya tersebut dilaporkan langsung kepada Danghyang Guru Sempakwaja. Pada akhirnya Sanjaya menyerahkan penunjukan penguasa Galuh tersebut kepada Danghyang Guru. Untuk itu Sempakwaja menunjuk Premana Dikusumah, cucu Purbasora dari putranya yakni putra Patih Wijayakusumah. Dengan demikian Sanjaya pun menerima usul tersebut. Sedangkan putra Sanjaya yang bernama Rahyang Tamperan dijadikan sebagai patih untuk mengawasi pemerintahan Premana Dikusumah.
Saung Galah
Sempakwaja sebagai penguasa Galunggung ia berniat untuk mengimbangi kekuatas Sanjaya di Galuh, resminya dijalankan oleh Permana Dikusumah. Untuk keperluan tersebut ia menunjuk Demunawan, putranya sebagai raja Layuwatang, sedangkan Sang Pandawa dimintakan sebagai guruhaji [rajaguru] di Layuwatang dan menyerahkan Kuningan kepada Demunawan, menantunya.
Demunawan dikenal juga sebagai Sang Seuweukarma atau Rahiyangtang Kuku. Sebagai seorang resiguru ia memiliki cakupan wilaha yang luas, maka pada pada tahun 723 Demunawan dinobatkan sebagai penguasa kerajaan Saung Galah di Kuningan. Wilayah Galunggung dan kerajaan kecilnya dijadikan wilayah dibawah Saung Galah, terletak di lereng Gunung Ciremai sebelah selatan. Sekarang dikenal dengan sebutan Kampung Salia, Desa Ciherang, Kecamatan Kadu Gede Kuningan, sebelah utara Waduk Darma.
Pada saat itu daerah kekuasaanya meliputi 13 wilayah, yakni Layuwatang, Kajaron, Kalanggara, Pagerwesi, Rahasea, Kahuripan, Sumajajah, Pasugihan, Padurungan, Darongdon, Pagergunung, Muladarma dan Batutihang. Empat daerah tersebut dikepalai oleh seorang Guru Haji, sedangkan wilayah lainnya dikepalai oleh Buyut Haden, didalam naskah Wangsakerta disebutkan Kyagheng atau Kiageng, Kigede,
Sanjaya harus teguh pada janjinya kepada Sempakwaja, ia tidak mengganggu adanya perluasan wilayah tersebut, terutama dengan diproklamirkannya Saung Galah. Dengan kekalahannya pada waktu Nyandoge maka ia harus tetap menerima syaratnya, bahkan ia dianggap belum layak untuk diakui kelebihannya oleh Demunawan.
Menurut Nusantara III/1 : Sanjaya telah berhasil menaklukan daerah Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur pada tahun 724 M. Daerah tersebut kebanyakan pendukung Demunawan yang memusuhi Sena yang sedang berkuasa di Bumi Mataram. Sanjaya kemudian secara ekspansif menyapu daerah pinggirian kekuasaan Demunawan. Pada kesempatan itu pula ia melunasi hutangnya untuk mengalahkan Sang Wiragati dan kawan-kawan yang pernah mengalahkannya di Kuningan.
Serangan Sanjaya tersebut sebenarnya hanya bertujuan menebus kekalahan, bukan untuk menguasai. Untuk kemudian ia kembali ke ibukota Galuh. Demunawan melihat adanya penambahan kekuatan Sanjaya dibanding pada masa lalu, sehingga daerah manapun yang ia inginkan diniscayakan dapat ditaklukan. Namun Sanjaya masih tetap berupaya untuk bersikap baik kepada Demunawan.
Alasan Sanjaya ini dikemukakan di dalam Kretabhumi I/2, sebagai berikut :
·        Rasika tanana katakut ring Sang Demunawan ing Saung galah, tathayan mangkana sira tatan angga malurug ring kadatwan uwa nira. Hetunya ayayah nira ya ta Sang Prabhu Senna haneng Medang ri Bhumi Mataram ri Jawa Wetan kumonaken ajna nihangta : kinon ta sarika dibyaguna ring santana pratisantana nira. Haywa ta sira lumage wwang sanak ya ta Sang Demunawan. Rumataketta muwang hatut madulur parasparopasarpana.
·        Gorawa ning wwang atuha.
·
Naskah tersebut menjelaskan, bahwa sebenmarnya Sanjaya tidak merasa takut terhadap Demunawan, namun ia tidak berniat menyerang Saung Galah. Hal ini disebabkan adanya perintah dari Prabu Sena, ayahnya, agar ia bersikap mulia kepada sanak kekuarganya dan tidak boleh memerangi kerabatnya, yakni Demunawan.
Memang dalam beberapa, naskah Wangsakerta selalu menggambarkan adanya rasa hormat Sanjaya kepada orang tuanya. Hal ini yang selalu dijadikan alasan untuk tidak melakukan penyerangan terhadap Galuh. Padahal ia dikenal sebagai raja yang paling ekspansif dan pemberani.
Hikmah dari sikapnya ini membuahkan hasil, pada tahun 674 saka atau 725 M, Demunawan mengakui kekuasaan Sanjaya di Galuh, bahkan dikisahkan pula kedatangan Demunawan ke Galuh yang disambut diperbatasan oleh Sanjaya. Para penulis menjadikan peristiwa ini sebagai titik awal berkuasanya Sanjaya di Galuh.
Penulis carita Parahyangan menggambarkan peristiwa pertemuan tersebut, sebagai berikut :
·
·        Rahiangtang Kuku, Sang Seuweukarma di Arile, ngagayakeun gempungan jeung para patih ; raja dicaritakeun hal pangajaran kaparamartaan. / “Nam urang rek marek, mawa kiriman ka Rahiang Sanjaya. Cokot emas sakati, lima boehna, bawaeun urang ka Rahiang Sanjaya.” / Dina danget eta, oge di Galuh ngayakeun kumpulan jeung para patih sakabeh. / “Nam urang nyieun labur di jalan gede pakeun ngabageakeun Sang Seuweukarma, lantaran enya eta Rahiang Kuku.” / “Barang datang ka sisimpangan ka Galuh jeung ka Galunggung, dipapag, dihormat disayagian cai pikeun sibanyo.”
Sanjaya di Jawa Barat juga dikenal dengan sebutan Prabu Harisdarma. Ia meninggal dunia karena jatuh sakit akibat terlalu patuh dalam menjalankan perintah guru agamanya. Dikisahkan pula bahwa putranya yang bernama Rahyang Panaraban diperintah untuk pindah ke agama lain, karena agama Sanjaya dinilai terlalu menakutkan.
Didalam Carita Parahyangan dituliskan tentang pesan Sanjaya kepada Tamperan, putranya :
·        Mojar Rahiyang Sanjaya, ngawarah anaknira Rakéan Panaraban, inya Rahiyang Tamperan: “Haywa dék nurutan agama aing, kena aing mretakutna urang réya.”
·
·        [Rahiang Sanjaya menasehati putranya, Rakean Panaraban, Rahiang Tamperan : ‘Jangan mengikuti agama ku, karena itulah yang menyebabkan aku ditakui orang banyak’].

Perpaduan Sunda-Galuh

Manarah bergelar Prabu Jayaperkosa Mandaleswara yang ia dapatkan pada saat dilangsungkannya Musyawarah Galuh. Ia penguasa Galuh terhitung sejak tahun 739 – 783 M, untuk kemudian mengundurkan diri dan memilih jalan bertapa sampai ia meninggal dunia (manurajasunya).
Sejak masa Manarah berkuasa di Galuh tidak ada gejolak yang menggoyahkan tahta Galuh. Mungkin karena sebelumnya Banga berhasil menaklukan raja-raja disekitar Citarum, kemudian melepaskan dari Galuh dan menjadi negara merdeka.
Memang proses permintaan Banga untuk melepaskan Sunda dari Galuh hampir menimbulkan kemarahan Manarah. Namun berkat jasa perantara Demunawan, yang mengemukakan alasan perlunya ada kesedarajatan antar keturunan Wretikandayun maka Manarah mau melepaskan Sunda sebagai Negara yang merdeka.
Bagi para kritikus sejarah memang ada anggapan yang mustahil tentang eksitstensi Demunawan yang telah memiliki cerita sejak masa pemberontakan Purbasora. Namun dalam Naskah Wangsakerta diceritakan, Demunawan wafat pada umur 128 tahun. Lebih tua dari umur Sempakwaja, ayahnya yang wafat pada umur 109 tahun dan Wreitikandayun, kakeknya yang wafat pada usia 109 tahun.
Penerus Galuh
Manarah sebelum mengundurkan diri menyerahkan kekuasaanya kepada Manisri, suami Puspasari, salah seorang putri Manarah, disebabkan ia tidak memiliki putra laki-laki. Manisri berkuasa sejak tahun 783 sampai dengan 799 M, bergelar Prabu Darmasakti Wirajayeswara.
Manarah didalam cerita Lisan dikenal sebagai tokoh Ciung Wanara, sedangkan Manisri dan Puspasari dikenal sebagai tokoh cerita Lutung Kasarung. Manisri dikenal dengan nama Guruminda, sedangkan Puspasari dikenal dengan sebutan Purbasari. Mungkin karena asal usul Guruminda tidak diketahui maka masyarakat tardisional dan para juru pantun menganggapnya sebagai Putra Sunan Ambu.
Sebagaimana dalam cerita lain, seperti cerita bawang merah dan bawang putih, atau cerita dari luar tentang Cinderela, status Purbasari dikonotasikan sebagai putri bungsu raja yang dianiayai kakak-kakak perempuannya. Disini pun ada semacam cerita yang menyangkut sentimen terhadap saudara tiri.
Misalnya Purbalarang sebagai kakak tiri ditempatkan sebagai si jahat yang mengucilkan Purbasari dari kehidupan istana. Hingga akhirnya datang Sang Lutung yang Kasarung menemukannya. Singkat cerita Purbasari mendapatkan takhtanya dan bersanding dengan lutung yang ternyata seorang kesatria (Guruminda).
Manisri kemudian digantikan oleh putranya, Sang Triwulan (799 – 806 M) digantikan lagi oleh Sang Welengan (806 – 813 M) dengan gelar Prabu Brajanagara Jayabuana. Sepeninggalnya tahta Galuh diserahkan kepada Prabu Linggabumi (813 – 852 M).
Rupanya Manarah dan keturunannya sangat sulit memperoleh anak laki-laki, karena Linggabumi cicit dari Manarah, terpaksa menyerahkan tampuk kekuasaanya kepada Rakeyan Wuwus, raja sunda keturunan Banga, suami adiknya.
Demikian pula sebaliknya, setelah Rakeyan Wuwus (Keturunan Banga) wafat pada tahun 891 M digantikan oleh Prabu Darmaraksa, adik Prabu Langlangbumi dari Galuh. Darmaraksa menikahi adik Raketan Wuwus, sebaliknya Rakeyan Wuwus menikahi kakak Darmaraksa.
Intrik keraton memang belum sedemikian reda, karena masih ada kerabat istnan Sunda yang tidak mau diperintah Urang Galuh. Pada tahun 895 M Peristiwa ini mengakibatkan di bunuhnya Darmaraksa oleh salah seorang Mantri.
Tahta Sunda – Galuh kemudian diserahkan kepada Windusakti atau Prabu Dewageung, putra Darmaraksa. Sejak saat itu kisah Galuh hampir kehilangan rekam jejak dan baru diberitakan kembali pada keturunan Sunda yang Ke – 20. Hal ini diungkapkan Pleyte (1915) dalam artikelnya tentang Sri Jaya Bupati, dalam buku “Maharaja Cri Jayabhupati Soenda’s Ouds Bekende Vorst”, yang mengulas mengenai prasasti Cibadak – Sukabumi.
Para akhli sejarah Sunda mensinyalir, hubungan dan perpaduan budaya Sunda – Galuh baru mencair pada abad ke 13, sebagaimana dengan penyebutan masyarakat Sunda untuk kedua penduduk ini. Kemudian pada abad 14 berita-berita luar sudah menggunakan istilah Sunda untuk masyarakat Sunda – Galuh. Perpaduan nama demikian terjadi secara alamiah, dimungkinkan akibat para tokoh dari daerah Sunda lebih terkenal di masa silam.

Demikian rundayan Carita Galuh masa silam. Jika memang ada salahnya, mudah-mudahan carita ini ada yang mau melakukan koreksi. Hana nguni hana mangke – Tan hana nguni tan hana mangke – Aya ma baheula hanteu teu ayeuna – Henteu ma baheula henteu teu ayeuna – Hana tunggak hana watang Hana ma tunggulna aya tu catangna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s